Kamis, 08 Desember 2011

Harta, Wanita, Tanpa Hati Nurani: Malin Kundang!

Bagaimana rasanya dikutuk jadi batu?
(Alhamarhum) Malin Kundang yang tahu jawabannya.

Kisah Malin Kundang terinspirasi dari sebongkah batu yang bentuknya seperti manusia sedang bersujud. Batu tersebut bisa kita temui di Padang, Sumatera Barat. Malin Kundang punya perjalanan hidup yang anti klimaks. Ia laki-laki yang punya jiwa kerja keras dan dedikasi tinggi. Sayangnya, gengsingnya juga gak kalah tinggi. Mengakui Ibunya yang tampil dalam keadaan compang-camping didepan istrinya yang cantik jelita bikin Malin Kundang keki. Akibatnya, Malin Kundang dikutuk jadi batu sama Ibunya.

Malin Kundang adalah satu dari buanyak dongeng Indonesia yang populer. Kisahnya pernah diangkat jadi sinetron di TVRI.

Begini dongeng Malin Kundang:

Dahulu kala di sebuah desa di tepi pantai Sumatera Barat, Malin Kundang remaja pamit pada ibunya, hendak berlayar ia mencari nafkah demi keluarga. Ibunya menolak keinginan anaknya karena usai kehilangan suaminya, tak mau pula ia kehilangan anak satu-satunya itu. Namun kondisi keluarga yang miskin dan carut marut menjadikan tekad Malin Kundang bulat. Malin Kundang pergi merantau.

Selama di kapal saudagar yang dia tumpangi, Malin Kundang belajar banyak. Suatu hari kapal tempat dia bekerja dibajak. Semua awak kru tak selamat kecuali Malin Kundang. Lalu terdamparlah ia pada sebuah desa di dekat pantai. Malin Kundang kembali bekerja dengan giat dan rajin. Selama dia bekerja, tak pernah ia kirim uang hasil jerih payahnya pada ibunda.

Kemudian Malin Kundang berhasil kaya raya, punya banyak uang dan seorang wanita. Suatu hari dia bersama istrinya yang cantik mengarungi lautan dalam rangka bisnis dan jalan-jalan. Tak sadar kapal miliknya itu membawa Malin Kundang pada pantai tempat desanya dulu berada.

Ibunya yang sudah tua renta mengetahui kehadiran anaknya. Dia menghampirinya. Dalam kondisi kumal dan miskin, sang Ibu mendekati Malin Kundang seraya berkata: “Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?”. Malin Kundang kaget. Dia mengenal siapa perempuan tua yang lusuh dan kotor itu. Namun karena malu, dia marah dan  mengusirnya.

Ibunya menangis, bingung dan kecewa. Hingga akhirnya, sang Ibu yang tak menyangka anaknya jadi durhaka mengucapkan sumpah “Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu”. Dan benar saja, Malin Kundang  kembali berlayar ke tengah lautan. Kapalnya itu diamuk badai. Kapalnya rusak dan semua penghuninya pun mati. Termasuk dia sendiri. Jenazahnya terdampar di pantai dekat desanya dan menjadi batu. Batu Malin Kundang ini terdapat di Pantai Air Manis, sebelah selatan Padang, Sumatera Barat, Indonesia.



Terinspirasi dari kisahnya Malin Kundang, kami bikin desain tema Malin Kundang ini.



:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...